1958: CIA vs Soekarno
(Foto: John F. Kennedy bersama Ir. Soekarno, dalam kunjungan ke Amerika Serikat pada 1961)
Kemenangan Partai Komunis, pertikaian internal di Militer, dan Nasionalisasi kepemilikan eks Belanda 1957, menyebabkan situasi memprihatinkan untuk kepentingan bisnis Amerika di Indonesia, terutama industri minyak dan karet.
CIA dengan penuh semangat, membantu memicu pemberontakan di daerah luar pulau Jawa, yang kaya akan sumber daya alam terhadap pemerintah pusat yang berbasis di Jakarta, Jawa.
“Saya pikir ini adalah waktu yang tepat untuk menyeret kaki Sukarno masuk ke dalam api,” kata
Frank Wisner, yang kemudian menjadi Deputi Direktur Perencanaan CIA tahun 1956.
Pada tahun 1958—setelah gagal mengambil pemerintahan Indonesia melalui proses
Pemilu 1955—CIA meningkatkan operasi penuh di Indonesia. Salah satunya adalah Operasi Hike, dimana operasi tersebut melibatkan persenjataan dan puluhan ribu warga Indonesia yang terlatih serta “Tentara Bayaran” untuk memulai operasi dengan tujuan untuk menjatuhkan Soekarno.
Joseph Burkholder Smith, merupakan seorang mantan agen CIA yang terlibat dengan salah satu operasi di Indonesia. Dalam bukunya, Potraits of a Cold War (Potret Perang Dingin), ia menuliskan bagaimana CIA berperan langsung;
Sebelum melakukan tindakan langsung terhadap posisi Sukarno bisa diterima, pertama-tama kita harus mendapatkan persetujuan terlebih dahulu dari Kelompok Khusus atau kelompok kecil dari pimpinan pejabat puncak Dewan Keamanan Nasional yang setuju untuk menutupi segala aksi rencana rahasia ini.
Ketika Duta Besar Amerika Serikat di Indonesia menulis surat kepada Washington atas ketidaksetujuannya secara tegas mengenai penanganan situas oleh CIA,
Allen Dulles kemudian mengganti dan menunjuk saudaranya sendiri yaitu
John Foster untuk menjadi Duta Besar di Indonesia, seseorang yang lebih bisa menerima kegiatan CIA di Indonesia.
(Foto: Central Intelligence Agency “CIA”)
Selain kegiatan Paramiliter, CIA juga mencoba trik perang psikologis untuk menyudutkan dan menjelekkan Sukarno, seperti lewat desas-desus bahwa Sukarno telah tergoda dan berselingkuh dengan seorang pramugari dari Soviet. Sheffield Edwards, yang ketika itu menjabat sebagai Kepala Keamanan Kantor CIA, meminta kepada Kepala Departemen Kepolisian Los Angeles untuk membantunya dalam proyek pembuatan film porno, dimana seolah-olah dalam film tersebut sedang menampilkan Soekarno beradegan porno. Orang lain yang terlibat dalam upaya ini adalah Robert Maheu, Bing Crosby dan saudaranya.
Ketika Badan Intelejen (Agency) berusaha untuk menjaga semua rahasia partisipasi kudeta mereka terhadap Sukarno, salah satu “tentara bayaran” CIA malah menemui ketidakberuntungan di awal misi. Salah satu pesawat yang di piloti oleh Allen Lawrence Pope tertembak jatuh dan ditangkap ketika menjalankan misi pemboman di wilayah perairan Ambon, Maluku. Ketika dilakukan pemerikasaan, di ketahui Allen Lawrence Pope membawa semua jenis kartu identitas yang menunjukkan bahwa dia memang seorang mata mata atau agen CIA. Pemerintah Amerika Serikat melalui Presiden Eisenhower menyangkal bahwa CIA sama sekali tidak terlibat dalam kudeta, akan tetapi tertangkapnya Allen Lawrence Pope menjadi bukti yang sangat kuat bahwa CIA benar-benar terlibat.
(Foto: Allen Lawrence Pope ‘kiri, duduk’ dalam persidangan, 28 Desember 1959)
Sebelum skandal Bay of Pigs (Teluk Babi), penangkapan Allen Lawrence Pope ini juga menjadi salah satu operasi terbesar CIA yang pernah gagal.
Post a Comment for "CIA vs Soekarno"