Supersemar; Tragedi '65 Sebagai Konteks Domestik
Mirip dengan kekhawatiran Amerika Serikat, di dalam negeri pun kekhawatiran akibat semakin berkembangnya PKI juga melanda sejumlah kalangan. PKI yang setelah Peristiwa Madiun 1948 ditumpas, pada awal tahun 1950-an sudah bisa mulai bangkit dan berkembang lagi dengan kepemimpinan yang lebih muda dan dinamis. Sebagaimana telah kita ketahui, pada Pemilu 1955 PKI bahkan menduduki ranking keempat sebagai partai terbesar pemenang Pemilu. Kemenangan ini membuat waswasnya banyak kalangan yang anti-Komunis di dalam negeri. Pelan tapi pasti mereka berusaha sekecil mungkin meminimalisir keadaan atau kalau bisa bahkan menyingkirkan sama sekali pengaruh PKI di negeri ini.
Sementara itu, Bung Karno yang dengan konsep NASAKOM (Nasionalisme, Agama dan Komunisme)-nya tampak makin dekat dengan PKI juga membuat kekhawatiran banyak pihak. Seakan mengamini kekhawatiran pihak-pihak luar negeri, berbagai elemen dalam negeri juga mulai khawatir bahwa Bung Karno tidak hanya akan membawa Indonesia ke arah yang ditentukan oleh PKI, melainkan juga tunduk di bawah kepentingan Komunis internasional, khususnya Republik Rakyat Cina.
Apa yang terjadi pada dini hari 1 Oktober 1965 itu menjadi katalisator untuk makin cepatnya dinamika politik di Indonesia berkaitan dengan situasi di atas. Ketika pada hari itu enam orang Jenderal dan seorang perwira pertama Angkatan Darat tewas akibat operasi militer yang dilakukan oleh Gerakan 30 September, pihak Angkatan Darat langsung melemparkan tuduhan bahwa PKI-lah yang secara penuh bertanggung jawab atas peristiwa berdarah tersebut. Berbagai bentuk kampanye media massa dilakukan untuk memperkuat tuduhan itu, dan tiga minggu kemudian (sekitar 20 Oktober 1965) mulai terjadi pembantaian massal di Jawa Tengah. Pada bulan November pembantaian massal berlanjut sampai ke Jawa Timur, untuk selanjutnya meluas ke Bali pada bulan Desember-nya. Banyak laporan yang mengatakan, pembunuhan dilakukan oleh kombinasi kekuatan sipil dan militer. Dalam waktu tiga bulan pembantaian massal itu menelan korban sekitar setengah juta orang.
Berhadapan dengan situasi yang demikian Bung Karno tampak kaget serta kewalahan. Tampaknya ia tidak pernah menyangka bahwa bangsa yang telah ia bantu dalam perjuangan menuju kemerdekaan itu akan sedemikian tega membunuh sesama warga negaranya sendiri. Ia lantas menjanjikan “solusi politik” untuk situasi ini, namun tak kunjung jelas apa yang ia akan lakukan. Ia mengatakan bahwa sejumlah pemimpin PKI memang “keblinger” dan terlibat dalam peristiwa berdarah itu, namun menolak untuk secara resmi membubarkan Partai Komunis tersebut. Dalam situasi demikian kalangan anti-Komunis semakin tidak sabar. Mereka ingin supaya PKI segera dibubarkan (meskipun praktis kepemimpinannya sudah kocar-kacir dan anggotanya yang masih hidup tercerai-berai). Sekaligus mereka juga menghendaki bahwa orang-orang kiri di sekitar Bung Karno harus segera disingkirkan—atau kalau perlu Bung Karno-nya sendiri yang disingkirkan. Dalam konteks domestik yang seperti itulah pada tanggal 11 Maret 1966 itu muncul Supersemar dengan segala kontroversi dan konsekuensinya.
Post a Comment for "Supersemar; Tragedi '65 Sebagai Konteks Domestik"